"Rupanya kau cukup cerdas, bocah," ujar Monrest dengan seringai mengejek. Matanya menyipit tajam, penuh tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa berat. "Aku Monrest. Jika kau masih sayang nyawamu, katakan! Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan di tempat ini?" Suaranya menggema, menggetarkan setiap jiwa yang mendengarnya.

"M-Monrest?" Leena tergagap, wajahnya seketika memucat. Sekarang dia paham kenapa aura sosok di depan mereka terasa begitu menakutkan. Semua cerita Lynx tentang leluhur tua yang mengerikan ini berputar di pikirannya, menambah ketegangan yang mencekam.

"Bagaimana bocah? Aku tidak akan menyakiti kalian," kata leluhur Monrest.

Namun, Lynx tidak memberinya kesempatan untuk berbicara lebih lama. Dalam satu gerakan cepat, ia mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya. Bilahnya berkilau dingin di bawah cahaya, dan energi alam di sekitarnya bergemuruh merespons tekanan spiritual yang mulai mengalir dari tubuhnya.

Monrest melangkah perlahan ke depan, senyumnya berubah menjadi seringai penuh keserakahan saat matanya tertuju pada cincin di tangan Lynx. "Menarik sekali," katanya, suaranya serak namun penuh otoritas. "Kau bahkan memiliki cincin penyimpanan. Katakan rahasiamu, dan aku akan membiarkanmu hidup. Bahkan, aku bisa memberimu sumber daya berlimpah untuk meningkatkan kekuatanmu. Bagaimana?" tawarnya, nada manis yang penuh kebusukan terdengar jelas.

"Jangan dengarkan dia, Lynx!" seru Leena dengan nada tegang. Tangannya mencengkeram lengan Lynx erat-erat, tubuhnya sedikit gemetar. Ia tahu Monrest tidak bisa dipercaya, dan tawarannya hanya jebakan.

Lynx menatap Monrest dengan tatapan tajam yang penuh perlawanan. "Kau pikir aku akan percaya pada kata-katamu?" desisnya dingin.

Monrest tertawa kecil, suaranya bergema penuh keangkuhan. "Sayang sekali, bocah. Aku memberimu kesempatan untuk memilih jalan mudah, tapi kau memilih jalan yang sulit." Suara dan auranya semakin menekan, membuat tanah di bawahnya bergetar.

Lynx menoleh cepat ke arah Leena. "Pergilah, Leena. Tempat ini terlalu berbahaya untukmu," katanya dengan nada tegas yang sarat kekhawatiran.

"Tidak!" jawab Leena tegas, sorot matanya menunjukkan tekad yang bulat. "Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku bisa membantumu melawannya!" katanya keras, meskipun ada sedikit gemetar dalam suaranya.

Lynx memejamkan mata sejenak, lalu membuka mereka dengan tatapan penuh ketegasan. "Leena, dia bukan tandinganmu," katanya pelan namun tegas. "Aku harus bertarung dengan seluruh kekuatanku. Kau harus memastikan semua penduduk menjauh dari area ini. Situasinya akan sangat berbahaya."

Leena mengangguk pelan, menyadari bahwa keberadaannya hanya akan mengganggu Lynx dalam pertempuran yang jelas-jelas tidak seimbang ini. Ia berbalik, bersiap untuk pergi. "Hati-hati, Lynx," katanya lembut, meski ketakutan jelas tergambar di wajahnya.

Namun, belum sempat ia melangkah jauh, suara Monrest yang dingin menginterupsi. "Mau ke mana kau, gadis cantik?"

Mata Monrest menyala merah terang, dan dalam sekejap tubuh Leena membeku di tempat. Matanya membelalak, mulutnya bergerak ingin berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Seluruh tubuhnya terasa seperti dibelenggu oleh rantai tak kasat mata.

"Lepaskan dia, brengsek!" Lynx menggeram penuh amarah, matanya menyala berkilat. Energi alam di sekelilingnya bergemuruh liar, merespons emosi yang tak tertahan. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, menggenggam gagangnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku akan membunuhmu!"

Dengan kecepatan luar biasa, Lynx melesat maju, mengayunkan pedangnya ke arah Monrest. Bilahnya bersinar tajam, dikelilingi pusaran energi hijau yang bergetar ganas. Namun, sebelum pedang itu sempat menyentuh tubuh Monrest, kekuatan tak kasat mata menghentikan gerakannya. Tubuh Lynx seperti menabrak dinding keras yang tak terlihat, membuatnya terpental jauh ke belakang dan jatuh menghantam tanah.

"Ugh!" Lynx meringis, darah segar menetes dari sudut bibirnya. Ia berusaha bangkit, tetapi dadanya terasa berat, seolah-olah tertimpa beban besar.

"Bukankah kamu ingin melihat semua kemampuanku?" Lynx berkata dengan nada dingin, matanya menusuk langsung ke arah Monrest. "Biarkan dia pergi, agar dia tidak mengganggu pertarungan kita. Atau... jangan-jangan kamu takut? Butuh dia untuk jadi tameng melawan semut kecil sepertiku?" Ia menunjuk ke arah Leena, sengaja memancing reaksi Monrest.

Monrest tertawa keras, suaranya menggema penuh keangkuhan. "Aku? Takut? Melawanmu?" katanya dengan seringai lebar. "Baiklah, pergilah! Gadis itu bisa bebas. Tapi ingat, dia tidak akan lari jauh dariku," ucapnya penuh keyakinan, memberi isyarat agar Leena dibebaskan.

Tubuh Leena yang semula kaku tiba-tiba kembali leluasa. Ia menghela napas lega, meski tatapan khawatir masih terpaku pada Lynx. "Leena, pergilah sekarang," kata Lynx tegas, nada suaranya mengandung kekhawatiran yang dalam.

"Berhati-hatilah, Lynx," balas Leena, sebelum ia berlari menjauh menuju kampung untuk memperingatkan penduduk agar tidak mendekati area pertempuran.

Lynx melangkah maju perlahan, tubuhnya tegak meski udara di sekitarnya terasa semakin berat. Matanya tetap terkunci pada Monrest, tajam dan penuh tekad. "Aku baru mulai," gumamnya pelan, hampir seperti janji pada dirinya sendiri.

Energi alam di sekitar Lynx kembali bergolak, lebih besar dan liar dari sebelumnya. Angin bertiup kencang, membuat daun-daun berputar di udara. Retakan mulai terlihat di tanah di bawahnya, menciptakan pola yang menjalar seperti jaring laba-laba. Pedangnya kini bersinar lebih terang, hampir seperti menyatu dengan kekuatan yang Lynx pancarkan.

Di dalam pikirannya, Lynx menggali ingatan yang diwariskan oleh leluhur Yaksa, mencoba mencari teknik yang bisa digunakannya. "Tidak ada yang cocok untukku," batinnya frustrasi. "Tapi aku tidak punya pilihan lain. Setidaknya, aku harus mencoba."

Dengan kecepatan luar biasa, Lynx melesat maju, menyerang Monrest dengan semua jurus yang bisa ia ingat dan kuasai. Tubuhnya bergerak lincah, serangan pedangnya mengarah ke titik-titik vital lawannya dengan presisi sempurna. Namun, setiap serangan yang ia lancarkan seperti menabrak dinding tak terlihat, terhenti begitu saja tanpa meninggalkan bekas pada Monrest.

Monrest tetap berdiri di tempat, tidak bergerak sedikit pun, seringai dinginnya semakin melebar. "Hanya ini? Aku berharap lebih, anak muda," katanya, suaranya penuh ejekan.

Lynx menggertakkan gigi, merasakan keputusasaan mulai merayap. "Kenapa tidak berhasil?!" pikirnya, tapi ia tetap tidak mundur. "Aku harus menemukan celahnya. Aku tidak bisa kalah di sini." Energi di tubuhnya kembali bergejolak, mengumpulkan kekuatannya untuk serangan berikutnya.

"Apa kamu masih belum menyerah? Tidak kusangka, hanya dalam beberapa hari kau berhasil mencapai tingkat Forging Qi akhir," kata Leluhur Monrest dengan senyum tipis, matanya memandang Lynx dengan tajam.

Namun, Lynx tidak menghiraukannya. Fokusnya hanya pada satu hal, mengeluarkan jurus pamungkas yang mungkin menjadi satu-satunya harapannya untuk melampaui batas dirinya. Pedangnya terangkat tinggi, dan energi alam dari sekitarnya mulai berputar, terserap ke dalam bilahnya. Suasana berubah drastis, langit menjadi gelap seolah-olah malam tiba lebih awal. Angin berhembus kencang, mengguncang pepohonan dan membawa rasa gentar ke hati siapa pun yang menyaksikan.

Di kejauhan, para penduduk menatap ke arah pertempuran dengan cemas. Leena telah memperingatkan mereka agar tidak mendekat, mengatakan bahwa pertarungan ini berbeda dari sebelumnya.

"Kak Narendra, apakah Kak Lynx bisa mengalahkannya?" tanya Kanha dengan suara bergetar, wajahnya mencerminkan kecemasan mendalam.

Narendra meletakkan tangannya di bahu Kanha, mencoba menenangkannya. "Dia pasti bisa. Lynx telah melakukan banyak hal luar biasa. Aku yakin dia akan membuat keajaiban lagi."

Di samping mereka, Lala, Jelita, Rira, dan yang lainnya berdiri terpaku, menyaksikan adegan yang membuat jantung mereka berdegup kencang.

Sementara itu, Lynx terus mengumpulkan energi alam ke pedangnya, membentuk pusaran kekuatan yang semakin besar. Di langit, bayangan energi mulai membentuk pedang raksasa, bersinar terang dan penuh ancaman. Angin semakin kencang, membuat para penonton nyaris tidak bisa berdiri tegak.

"Leena, apa ini? Apa yang sedang terjadi?" tanya Kael, sebagai seorang prajurit yang telah melihat banyak pertempuran, dia belum pernah melihat hal seperti ini, bahkan ia ternganga menyaksikan kejadian ini. "Kemampuan apa ini? Ini seperti adegan dari film!"

Leena tidak menjawab, matanya terpaku pada Lynx. Ia sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Aku tidak tahu..." gumamnya.

"Kak Narendra, kau yakin Kak Lynx bisa mengalahkannya?" tanya Kanha lagi, kali ini suaranya lebih kecil, hampir seperti bisikan. Matanya tidak bisa lepas dari cahaya pedang raksasa yang menggantung di langit.

